cijapati

Tanya academia cijapati

Sunday, November 22, 2015

Surat Terbuka

SURAT TERBUKA
KEPADA PARA PENGUASA
YANG INGIN MENGHINDARI KEGADUHAN

Salam dan hormat untuk Bapak Presiden Jokowidodo, Bapak Wakil Presiden Jusuf Kala, dan seluruh kabinet kerja.

Hari ini Rabu 28 Oktober 2015 kita memperingati hari sumpah pemuda yang ke delapan puluh tujuh (87). Sejarah perjuangan bangsa kita mencatat bahwa peristiwa itu merupakan salah satu peristiwa fundamental yang menjadi dasar tegaknya revolusi di tanah air. Hingga saat ini kita masih dapat merasakan begitu kuatnya semangat para pemuda waktu itu untuk bersatu dalam pergerakan revolusi memerdekakan bangsa dari penjajahan.

Sudah tidak perlu kita sangsikan lagi jiwa revolusioner yang menggelaora dlam diri para pemuda penggagas sumpah pemuda saat itu. Tidak perlu kita uraikan lagi resiko apa yang harus mereka hadapi sebagai konsekwensi dari peristiwa bersejarah yang mereka lakukan itu. Begitulah perjuangan dan pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk menyuarakan semangat revolusi mereka meski nyawa sebagai taruhannya.

Masa revolusi fisik memang sudah bangsa kita lalui. Hari ini bangsa kita telah berusia tujuh puluh (70) tahun terhitung sejak proklamasi 1945. Usia itu bukan usia yang masih muda, kepemimpinan dalam bangsa dan negara kita pun telah mengalami beberapa kali pergantian sejak Presdien pertama Bapak Ir. Soekarno sampai saat ini Bapak Jokowidodo.

Kita semua mengikuti bagaimana pemilihan secara langsung yang telah digelar negara kita dalam memilih kepala negara dan kepala pemerintahan. Apa ayang Bapak Jokowidodo dan Pak JK sodorkan pada masa kampanye lebih menarik perhatian publik sehingga terpilihlah bapak berdua sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2014 – 2019.

Revolusi mental menjadi kata kunci sejak bapak berdua berkampanye hingga saat ini. Satu tahun telah bapak berdua lalui dalam mengelola pemerintahan dan negara. Beraneka ragam peristiwa telah bermunculan di tengah-tengah publik semenjak bapak berdua memimpin negara ini.

Setelah pelantikan bapak berdua sebagai Presiden dan Wakil Presiden Periode 2014 – 2019 dilakukan. Tugas utama dan pertama bapak berdua adalah menyusun komposisi kabinet sebagai energy sentral untuk bapak berdua dalam mengejawantahkan visi dan missi bapak berdua saat kampanye. Tibalah saatnya bapak mengumumkan susunan kabinet yang bapak sebut dengan Kabinet Kerja. Alangkah terkejutnya kami ketika melihat komposisi kabinet ternyata tidak lepas dari kompromi politis parta-partai pendukung saat bapak berdua berkampanye. Kenapa kami terkejut ? karena kami pegang kata-kata bapak yang berkali-kali menyatakan bahwa susunan kabinet tidak akan terpengaruh oleh kompromi politis partai-partai pendukung. Kita kecewa dengan ketidaksesuaian antara kenyataan dengan kata-kata yang bapak sering sampaikan di hadapan publik.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Waktu membuktikan kepada kita semua dinamika kabinet yang bapak berdua pimpin.akhirnya bapak pun mengalami kekecewaan atas kinerja beberapa mentri yang kinerjanya disoroti publik buruk alias tidak menunjukan kelayakan mereka berada di posisi terhormat itu. Beberapa orang mentri yang tidak jelas kinerjanya itu bapak ganti dalam pengumuman reshuffle kabinet, sementara yan lainnya yang juga tidak menunjukan kerja yang maksimal hingga sekarang masih bapak pertahankan.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Kebijakan bapak untuk menghentikan subsidi BBM dan menaikan harga BBM di tengah-tengah pengetahuan para pengamat yang menyatakan bahwa harga minyak dunia saat itu malah sedang turun sungguh membingungkan dan memberatkan kami. Kita tidak mendengar penjelasan resmi dari pemerintah yang mampu memberikan penuntasan argument para pengamat yang tiada henti-hentinya menyuarakan argumentasi mereka.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Ketika Bapak Faisal Basri bapak tugaskan untuk melakukan penelitian sekaligus investigasi terhadap perusahaan-perusahaan yang berada dalam pusaran perputaran BBM, kita tidak menjumpai sesuatu yang sangat berarti dan mendasar dari hasil kerja Pak Faisal Basri dkk. Kita hanya mendengar begitu seringnya kata-kata mafia migas muncul ke ruang publik tanpa jelas dan pasti siapa mereka. Hasil kerja Pak Faisal Basri dkk pun menjadi kehilangan ruhnya tanpa kita ketahui apa yang bapak lakukan selanjutnya.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Perselisihan dan saling serang yang pernah terjadi antara KPK dan POLRI merupakan peristiwa memilukan sepanjang perjalanan tata kelola lembaga tinggi negara kita ini. Kejadian yang telah memakan korban itu ternyata berawal dari pengajuan Bapak Budi Gunawan sebagai calon Kapolri yang bapak rekomendasikan kepada DPR RI untuk dilakukan fit and propert test. Kemelut terjadi begitu pelik mencuatkan istilah kriminalisasi KPK. Kita hanya melihat fakta ril terpentalnya Bapak Abraham Samad dan Bapak Bambang Wijayanto sebagai komisioner KPK.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Pelaksanaan hukuman mati terhadap para terpidana jaringan pengedar narkoba telah bapak laksanakan. Publik hari ini terdiam karena banyak juga warga Negara kita yang telah divonis hukuman mati di Negara lain tanpa bias kita selamatkan. Katakanlah benar bahwa hukuman mati itu untuk memberikan efek jera kepada jaringan narkoba internasional yang menjadikan Indonesia surga untuk bisnis narkoba. Kami menghormati keberanian bapak itu, apalagi kalau yang dihukum mati itu adalah gembong-gembong kelas kakapnya. Sekarang setelah mereka para kurir dihukum mati bisakah gembong kelas kakap itu diendus, ditangkap, dan dihukum mati ?

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Penggantian Bapak Budi Waseso sebagai Kabareskrim setelah ‘’mengganggu’’ kenyamanan Bapak RJ Lino sebagai Direktur PELINDO bagaimanapun juga sulit untuk bapak putuskan benang merahnya. Publik dapat melihat langsung tayangan live media masa yang menayangkan arogansi Bapak RJ Lino ketika bicara melalui telefon genggamnya dengan salah seorang petinggi negara ini. Lagi-lagi kita hanya bias geleng-geleng kepala atas peristiwa itu.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Keadaan ekonomi yang semakin berat dirasakan publik bagaimanapun adalah pukulan terberat sepanjang perjalanan negara kita. Harga-harga sembako meningkat tajam, daya beli masyarakat semakin menurun drastic, beberapa perusahaan mengalami bangkrut dan PHK secara besar-besaran telah terjadi, gelombang pengangguran tiada surut, dan serangkaian efek dadu dari kekacauan ekonomi negara kita. Sementara bapak dengan senyum-senyum dan wajah tanpa dosa menyatakan di ruang publik bahwa bukan hanya kita yang mengalami peristiwa ini, yakinlah tahun depan semuanya akan berubah menjadi baik.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Saat Bapak Rizal Ramli yang telah bapak lantik sebagai salah satu menko dengan rajawali ngepretnya membuat merah muka dan kuping beberapa petinggi negara ini, ahirnya muncullah operasi senyap di negara kita untuk kesekian kalinya. Ternyata itu berhasil bapak lakukan, sekarang kita tidak mendengar lagi rajawali ngepret di ruang publik. Bapak Rizal Ramli seakan hilang ditelan operasi senyap dari ruang publik karena mungkin ungkapan jangan membuat kegaduhan ternyata telah berhasil membungkam beliau. Hari ini kita juga menjumpai begitu banyak pihak yang terdiam karena pasti akan dikata-katai membuat kegaduhan, padahal dari dahulu mereka adalah para aktifis yang begitu lantang menyauarakan dan memperjuangkan keadilan.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Mendengar ungkapan membuat kegaduhan akan mengganggu para investor terutama investor asing dalam menanamkan saham dan peran serta mereka dalam pembangunan menjadi lebih menghawatirkan bapak berdua dan kabinet kerja dibandingkan dengan pembungkaman secara bertahap dan berkesinambungan terhadap kekritisan berbagai pihak yang sma-sama mencintai bangsa dan negara ini namun mereka menunjukkannya dengan cara yang berbeda. Ungkapan itu telah memanggil memori kita terhadap ungkapan di masa lalu saat orde baru berkuasa. Ungkapan mengganggu stabilitas nasional menjadi senjata ampuh waktu itu untuk membungkam suara keadilan yang diperjuangkan para aktifis meski pada ahirnya masa otoriter itu tumbang juga. Satu essensi dari dua ungkapan periode yang berbeda itu, yaitu jangan kritisi policy pemerintah.

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Jika sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa secuil kekuasaan lebih berharga dibandingkan dengan sekeranjang kebenaran dijadikan sebagai rujukan utama dan pertama bapak-bapak dalam mengelola dan memimpin negara ini, maka jangan heran yang akan terjadi kemudian adalah kembalinya penjajahan rezim otoriter terhadap mayoritas warga negara kita yang memang belum merdeka sejak tahun 1945.   

Inikah revolusi mental yang bapak maksud ?

Demikian surat ini Bapak Presiden Jokowidodo, selamat Hari Sumpah Pemuda dan semoga kita dapat berjumpa untuk saling memperbaiki.










Ditulis dengan semangat sumpah pemuda
Pada hari Rabu, 28 Oktober 2015
Oleh Rizal Perdana Kusumah
Peneliti “TANYA ACADEMIA – for better knowledge and life”
Bandung – Jawa Barat
    


No comments:

Post a Comment