Tinjauan
Filosofis
Ketika Tuhan mencipta alam semesta
tentu saja semuanya telah berada dalam keseimbangan. Bumi sebagai salah satu
bagian kecil semesta ini telah dikomposisikan sedemikian rupa dalam
perbandingan lautan, pegunungan, hutan, dan lain sebagainya dengan sebaik
mungkin. Indonesia merupakan salah satu hamparan keseimbangan dunia, disamping
sebagai bagian penting keseimbangan dunia Indonesia juga merupakan salah satu
fenomena menawan dunia. Hamparan hijau hutan Indonesia merupakan salah satu
bagian penting paru-paru dunia. Namun seiring perjalanan sang waktu dan
perkembangan zaman perlahan tapi pasti paru-paru dunia itu mengalami
penderitaan.
Adalah sebuah keniscayaan bila waktu
terus bergulir, ada masa lalu, hari ini dan masa yang akan datang. Manusia pun
mengalami perkembangan dalam menjalani kehidupannya. Secara umum kita memahami
bahwa manusia adalah subjek utama dalam ekosistem. Lingkungan hidup dimana
manusia berada sering kali menjadi objek yang diperlakukan manusia
sekehendaknya saja, tanpa pertimbangan jauh ke depan manusia sering kali
mengeksploitasi lingkungan hidup secara antroposentris alias keegoisan sesaat
manusia hanya untuk saat itu saja tanpa peduli bagaimana keadaan lingkungan
hidup di masa yang akan datang.
Saat sikap dan tindakan
antroposentris itu muncul sampai ahirnya merajalela dengan begitu liar sudah
bisa dipastikan yang akan kita jumpai adalah kerusakan dan kehancuran. Pada
tahap awal mungkin hanya sedikit saja yang rusak, namun lama kelamaan kerusakan
itu akan semakin meluas sampai ahirnya berubah menjadi kehancuran dan
kebinasaan yang sulit untuk diperbaiki bahkan akal sehat kita tidak sanggup
lagi memberi solusi untuk menanggulangi kerusakan itu.
Tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun
bahwa kebutuhan hidup manusia berupa sandang, pangan, papan dan lain-lain
menjadi argumentasi utama manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam di
lingkungan hidupnya. Satu hal mendasar yang sering kita lupa adalah bagaimana
kita bertindak bukan sekedar mengambil manfaat pada sumber daya alam tetapi
juga menjaga kelestarian sumber daya alam itu dengan sebaik-baiknya. Manusia
bukan dilarang untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada namun juga
pemanfaatan itu memerlukan kearifan manusia sehingga apa pun yang manusia
lakukan terhadap seluruh sumber daya yang ada semuanya selalu berwawasan
lingkungan dan untuk kelestarian jangka panjang.
Membangun kesadaran hidup dengan
kearifan berwawasan lingkungan dan untuk kelestarian jangka panjang bisa sangat
mudah dilakukan namun boleh jadi hal itu pun menjadi sangat sulit dan
melelahkan untuk mewujudkannya. Mulailah belajar untuk bersikap penuh perhatian
dan tanggung jawab, tinggalkanlah sikap apriori acuh tak acuh dan masa bodoh
dengan apa pun yang sedang terjadi di lingkungan hidup kita. Manusia bukanlah
sekedar mahluk yang memiliki tanggung jawab moral untuk selalu berbuat
kebaikan, menghindari segala sesuatu yang mengakibatkan kerusakan dan
kehancuran, namun juga siap berjuang dan berkorban untuk merubah kerusakan
menjadi kebaikan.
Dengan kerangka dan landasan berpikir
filosofis seperti itulah kita akan memiliki kesadaran manusiawi yang sangat
berharga untuk peradaban. Dengan kerangka berpikir filosofis itu juga kita
menjadi sangat faham dan yakin bahwa tidak ada nikmat Tuhan yang telah
diberikan-Nya kepada kita tanpa pertanggungjawaban baik sekarang maupun kelak.
Kabupaten
Bandung Dari Masa Ke Masa
Pesona Indonesia dapat dilihat secara
kasat mata melalui berbagai panorama alamnya. Siapa yang tidak tergiur melihat
keindahan alam Indonesia ? maka berbondong-bondonglah para penguasa dunia
berdatangan ke Indonesia. Niyat busuk mereka dibuktikan dengan biadabnya
penjajahan yang begitu menyakitkan dalam lembaran sejarah kehidupan bangsa
Indonesia.
Salah satu wilayah yang mempesona di
Indonesia dalam pandangan para penjajah itu adalah Bandung. Konon katanya
bandung berasal dari kata bendung saat terjadi letusan gunung Tangkuban Parahu
yang seluruh material letusan tersebut membendung aliran sungai Citarum dan
terbentuklah telaga, telaga yang terbendung inilah yang menginspirasi kata
Bandung.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata
bandung diambil pada saat pelayaran yang dilakukan oleh Adipati Wiranatakusumah
II ketika beliau menggunakan dua buah perahu yang diikat secara berdampingan
dalam upaya mencari daerah yang tepat untuk memindahkan ibu kota Kabupaten dari
Karapyak (sekarang Dayeuhkolot) berdasarkan perintah Gubernur Jendral
pemerintah penjajah Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels. Ahirnya perahu yang
beliau gunakan disebut perahu bandung, begitu juga daerah yang beliau tunjuk
selanjutnya disebut Bandung.
Ada juga pendapat yang mengatakan
bahwa kata bandung diambil dari makna filosofis sebuah ungkapan Sunda klasik Nga-Bandung-an Banda Indung, dalam
bahasa Sunda ngabandungan artinya
menyaksikan atau memperhatikan dengan sebaik-baiknya, banda artinya seluruh kekayaan, sedangkan indung yang dimaksud adalah Ibu Pertiwi dalam sinonim bahasa
Indonesia. Secara filosofis Bandung dimaknai dengan menyaksikan, memperhatikan,
dan merawat dengan sebaik-baiknya seluruh kekayaan Ibu Pertiwi.
Menurut beberapa riwayat sejarah,
setelah kerajaan utama di tanah sunda yaitu Kerajaan Padjadjaran mengalami
kemunduran, terjadi ekspansi dari kerajaan Islam Mataram di tanah Jawa termasuk
juga ke wilayah Priangan. Kabupaten Bandung lahir untuk pertama kali melalui
Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada tanggal 9 Muharam tahun Alif atau sama
dengan hari Sabtu tanggal 20 April 1632 Masehi. Bupati pertamanya adalah
Tumenggung Wiraangunangun alias Ki Astamanggala
yang memerintah dari tahun 1632-1681 M. Dari bukti sejarah tersebut
ditetapkan bahwa tanggal 20 April sebagai hari jadi Kabupaten Bandung. Setelah
Tumenggung Wiraangunangun, Bupati Bandung dilanjutkan oleh salah seorang
putranya yaitu Tumenggung Nyili. Tumenggung Nyili tidak lama memangku jabatan
itu karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan Bupati Bandung kemudian dilanjutkan
oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) pada tahun
1681-1704 M.
Selanjutnya kedudukan Bupati Bandung
dilanjutkan oleh putra Tumenggung Ardikusumah, yaitu Tumenggung Ardisuta yang
diangkat tahun 1704 setelah pemerintah penjajah Hindia-Belanda mengadakan
pertemuan dengan para bupati sepriangan di Cirebon. Saat itulah yang menjadi
awal campur tangannya pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda terhadap
Kabupaten Bandung. R.Ardisuta
(1704-1747) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia
sering disebut Dalem Gordah. Sebagai penggantinya diangkat putra tertuanya
yaitu Demang Hatapraja yang bergelar Tumenggung Anggadiredja II (1747-1763).
Pada masa pemerintahan Anggadiredja
III alias R.Wiranatakusumah I (1769-1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan
Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukan Batulayang ke dalam
pemerintahannya.
Pada masa pemerintahan Adipati
Wiranatakusumah II (1794-1829) ibu kota pemerintahan Kabupaten Bandung
dipindahkan dari Karapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke tepi sungai Cikapundung
atau alun-alun Kota Bandung sekarang. Pemindahan ibu kota itu atas dasar
perintah dari Gubernur Jendral penjajah kolonial Hindia-Belanda Herman Willem
Daendels tanggal 25 September 1810, dengan alasan wilayah baru tersebut dinilai
akan memberikan prospek lebih baik untuk kemajuan Kabupaten Bandung. Setelah
pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II, Bupati Bnadung dilanjutkan oleh
Adipati Wiranatakusumah III (1829-1846).
Setelah kepala pemerintahan dipegang
oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874) ibu kota Kabupaten Bandung
berkembang pesat dan dia dikenal dengan Bupati Bandung yang progresif. Dialah
peletak dasar master plan Kabupaten
Bandung yang disebut Negorij Bandoeng.
Tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Mesjid Agung.
Selanjutnya dia juga memprakarsai berdirinya Sekolah Raja (Pendidikan Guru) dan
mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding
School Voor Indische Ambtenaarent). Atas jasa-jasanya dalam membangun
Kabupaten Bandung di berbagai bidang, dia mendapatkan penghargaan dari
pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda berupa Bintang Jasa, sehingga
masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Dalem Bintang.
Pada masa awal kekuasaan pemerintah
penjajah kolonial Hindia-Belanda, Bandung hanyalah sebuah perkampungan kecil di
tengah-tengah lebatnya belantara pepohonan, bahkan jalan Braga yang kemudian
melegenda di Bandung saat ini masih berupa jalan tanah yang masih becek dan
kotor bila turun hujan. Pada tahun 1810, mulailah perubahan terhadap Bandung
dilakukan oleh pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda melalui Gubernur
Jendralnya waktu itu Herman Willem Daendels yang mengeluarkan surat keputusan
tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk
kawasan ini. Kampung Bandung mulai ditata dan kemudian mulai dijadikan sebagai kawasan
pemukiman. Di kemudian hari peristiwa pada tanggal 25 September ini diabadikan
sebagai hari jadi Kota Bandung.
Tahun 1896 Kampung Bandung telah
mengalami serangkaian perubahan dalam penataan pemerintah penjajah kolonial
Hindia-Belanda. Penduduknya yang terdata sebanyak 29.382 orang di antaranya
1.250 orang berkebangsaan Eropa dan mayoritas orang Belanda.
Salah satu bentuk eksploitasi
penjajah di seluruh tanah air Indonesia adalah dengan membentuk berbagai
perkebunan di bumi nusantara yang memang sangat subur. Begitu juga yang terjadi
dengan kawasan Bandung dan sekitarnya. Dimulailah penebangan pepohonan,
pembukaan hutan-hutan untuk selanjutnya dirubah menjadi lahan-lahan perkebunan
sebagai bentuk penguasaan para penjajah kepada orang-orang pribumi dengan
melakukan tanam paksa perkebunan atau yang dicatat dalam sejarah kelam bangsa
kita adalah cultuure Stelsel.
Sejarahwan Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeleo mengatakan
bahwa salah satu julukan kota Bandung adalah kota kembang yang menurutnya
berasal dari peristiwa pada tahun 1896 saat Besturr
van de Vereniging van Suikerplnters (Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha
Perkebunan Gula) yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat
penyelenggaraan kongresnya yang pertama.
Tuan Jacob sebagai panitya kongres
mendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan “kembang-kembang”. Kembang
yang dimaksud adalah kembang dayang
yang dalam bahasa sunda sama dengan WTS (wanita tuna susila) atau PSK (pekerja
sex komersial) yang saat itu adalah “noni-noni cantik indo-belanda” dari
wilayah perkebunan Pasirmalang (merupakan bagian dari perkebunan teh Malabar di
Pangalengan) untuk menghibur para pengusaha gula tersebut.
Setelah kongres para tamu menyatakan
sangat puas dan kongres dikatakan sukses besar. Dari mulut para peserta kongres
itu kemudian muncul istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergstend, atau Bandung sebagai bunganya kota
pegunungan di Hindia Belanda. Dari situlah munculnya julukan kota kembang untuk
Bandung.
Dalam buku Otobiografi Entin Supriatin,
Deritapun dapat ditaklukan, Mitra
Media Pustaka, Bandung (2006) disebutkan, bandung dikenal dengan sebutan Parisj van Java atau Paris-nya Pulau
Jawa. Mungkin sebagian kita sekarang mengira bahwa istilah ini muncul dari
keindahan Bandung yang sama dengan keindahan Paris, padahal bukan itu maksud
mereka (penjajah kolonial Hindia-Belanda). Julukan Parisj van Java muncul karena pada waktu itu di jalan Braga
terdapat banyak toko yang menjual barang-barang terutama pakaian sisa pameran
modeling yang diselenggarakan di Paris. Di jalan Braga juga pada waktu itu
sering digelar kontes dan peragaan busana mengikuti kontes dan peragaan busana
di Paris. Toko yang terkenal di antaranya adalah toko mode dan pakaian Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang
menjual gaun wanita mode Paris.
Ada juga restoran Maison Bogerijen yang menjual makanan
khas Paris yang menjadi tempat santap para pejabat dan pengusaha penjajah
kolonial Hindia-Belanda atau Eropa. Mereka begitu nyaman menikmati santap dan
belanja mereka di Bandung seakan-akan sedang berada di Paris. Dari situlah
julukan Parisj van Java untuk kota
Bandung mulai muncul.
Sejak zaman penjajahan kolonial
Hindia-Belanda hutan Indonesia telah dibuka dengan proyeksi menjadi areal-areal
perkebunan teh, kina, kopi, tebu, rempah-rempah, dan berbagai komoditi lain
yang sedang mahal harganya di pasar perdagangan dunia saat itu.
Setelah Indonesia memproklamasikan
kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945, berahirlah berbagai eksploitasi
penjajah kolonial Hindia-Belanda dan penjajahan Jepang di tanah air. Adalah
benar adanya bila para penjajah itu mewariskan kepada kita berbagai perkebunan
di seantero nusantara, namun tidak dapat dipungkiri juga warisan pembukaan
hutan belantara nusantara telah menjadi cikal bakal kerusakan selanjutnya.
Negara dan bangsa Indonesia dalam
berbagai orde pemerintahannya baik Orde Lama, Orde Baru, atau pun Masa
Reformasi sampai saat ini tidak mampu menghentikan berbagai eksploitasi hutan
dan melestarikan hutan sebagaimana layaknya. Bahkan dapat dikatakan bila bentuk
eksploitasi pemerintah Indonesia lebih parah bila dibandingkan dengan eksplotasi
para penjajah. Untuk membuktikan itu semua kita tidak perlu melakukan survey, research dan penelitian, semuanya telah terpampang di depan mata
kita. Sungguh ironi yang menyesakkan dan menyakitkan dada kita semua.
Kabupaten Bandung sekarang berbeda
dengan Kaboepaten Bandoeng Tempo doeloe. Kabupaten Bandung yang kita lihat
sekarang adalah salah satu Kabupaten dalam wilayah Pemerintahan Daerah Propinsi
Jawa Barat. Perjalanan panjang Kabupaten Bandung dari masa ke masa telah
memekarkan dirinya menjadi beberapa pemerintahan daerah, dari pemekaran itu
telah melahirkan Pemerintahan Daerah Kota Bandung, Pemerintahan Daerah Kota
Cimahi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Bandung Barat.
Dari perjalanan panjang Kabupaten
Bandung itu tentu saja telah mendokumentasikan begitu banyak nama sebagai
Bupati Kabupaten Bandung sejak saat pertama hingga saat ini.
Saat ini Kabupaten Bandung dipimpin
oleh Bupati H.Dadang M.Naser S.H.,S.Ip.,M.IPol untuk masa jabatan 2010 – 2015. Kabupaten
Bandung juga merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang telah
melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak secara langsung pada gelombang
pertama yang jatuh pada hari Rabu tanggal 9 Desember 2015. Hasil pilkada
langsung serentak di Kabupaten Bandung itu telah dimenangkan kembali oleh Bapak
H.Dadang M.Naser S.H.,S.Ip.,M.IPol untuk jabatan Bupati Kabupaten Bandung periode
2015 – 2020.
Setelah perjalanan panjang Kabupaten
Bandung yang mengalami perubahan demi perubahan dalam segala hal termasuk di
dalamnya pemekaran wilayah dan pemerintahan daerah maka, secara geografis luas Kabupaten
Bandung hari ini adalah 1.762,39 km2 dengan ibu kota pemerintahannya
Soreang. Sedangkan batas geografis yang berbatasan dengan beberapa kabupaten
dan kota adalah di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Garut, di sebelah
utara berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, Kabupaten Bandung
Barat, dan Kota Cimahi, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur
dan Kabupaten Garut, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten
Bandung Barat.
Cijapati
Dalam Berbagai Perspektif
1.
Posisi Geografis Cijapati
Secara geografis kawasan cijapati
merupakan sebuah kawasan yang berada dalam wilayah administrasi dua desa di
Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung, dua desa itu adalah Desa Srirahayu dan
Desa Mekar Laksana.
Cijapati merupakan bagian dari Daerah
Aliran Sungai (DAS) Cimanuk yang mata airnya berada di Kabupaten Garut mengalir
sampai ke Kabupaten Sumedang, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarik yang mata airnya
berada di Kabupaten Sumedang mengalir menuju Sungai Citarum di Kabupaten
Bandung sampai ke Kabupaten Purwakarta.
Kawasan Cijapati berada pada
ketinggian kurang lebih 1.000 – 1.200 meter di atas permukaan laut, dengan suhu
yang berkisar antara 18-300 Celcius. Udara yang sejuk dan segar
sangat jauh dari polutan industri menjadikan kawasan ini merupakan salah satu
kawasan yang tepat untuk mendapatkan sentuhan maksimal program-program unggulan
pemerintah baik pusat, propinsi maupun
kabupaten serta para investor dari pihak swasta.
Sampai saat ini kawasan Cijapati
masih merupakan kawasan yang belum diberdayakan secara maksimal oleh berbagai
program. Salah satu aset potensial di ujung timur Kabupaten Bandung ini
merupakan aset yang menjanjikan kemajuan bagi semua pihak bila dikelola secara
arif dan berkepanjangan serta berwawasan lingkungan.
2.
Hutan Cijapati dan Gunung Mandalawangi
Di kawasan Cijapati juga terdapat
sebuh gunung yang menjadi batas alam antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten
Garut. Gunung itu adalah Gunung Mandalawangi dengan ketinggian kurang lebih
1.650 meter di atas permukaan laut, sedangkan katagori hutan Gunung
Mandalawangi adalah hutan lindung yang berada dalam pengelolaan Kesatuan Resort
Pemangkuan Hutan (KRPH) Mandalawangi yang merupakan Bagian Kesatuan Pemangkuan
Hutan (BKPH) Ciparay dalam naungan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bandung
Selatan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat.
Hutan di Gunung Mandalawangi ini
memiliki populasi pohon yang variatif. Hutan Cijapati yang termasuk ke
Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung merupakan sebagian wilayah administrasi
dari dua desa, yaitu Desa Mekar Laksana dan Desa Mandalasari.
Sampai saat ini keberadaan hutan
lindung dan Gunung Mandalawangi di kawasan Cijapati masih sebatas penyejuk pemandangan
bagi para pengguna kendaraan bermotor dan roda empat yang sedang melintasi
kawasan tersebut. Pemanfaatan yang belum maksimal ini baru pada sentuhan awal
dengan membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan luas pengelolaan
seluas kurang lebih 400 hektar dengan program Pengelolaan Hutan Bersama
Masyarakat (PHBM) berupa penanaman dan pembudidayaan pohon kopi di areal
tersebut.
Penertiban LMDH yang sekarang ini
dikelola oleh dua LMDH, yaitu LMDH Mekar Mandalawangi yang berada di Desa Mekar
Laksana dan LMDH Mandalasari yang berada di Desa Mandalasari dalam pengelolaan
hutan lindung Cijapati bersama Perhutani Unit III Jawa Barat dan Pemerintah
Daerah Kabupaten Bandung bagaimana pun harus terus mendapatkan perhatian
berbagai pihak agar pengelolaan ini mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya
bagi kesejahteraan dan kemajuan masyarakat tetapi juga dapat menekan kerusakan
lingkungan hidup dengan sekecil-kecilnya.
Rintisan hutan wisata yang terletak
di Desa Mekar Laksana seluas kurang lebih 12 hektar dari 400 hektar yang telah
dikelola dalam program PHBM oleh LMDH dan telah mendapat persetujuan dari pihak
Perhutani Unit III Jawa Barat yang dalam hal ini diwakili oleh Asper (Asisten
Perhutani) dan Muspika Kecamatan Cikancung, karena satu dan lain hal ahirnya
dihentikan oleh pihak Muspika yang sebelumnya telah ikut menyetujui hal
tersebut. Entah kapan keberlangsungan hutan wisata yang terhenti perintisannya
itu akan terwujud kembali.
3.
Pertanian di Kawasan Cijapati
Kawasan Cijapati memiliki sekian banyak
keunggulan di antaranya adalah tanah yang gembur dan subur untuk melakukan
budidaya tanaman dalam aktifitas pertanian. Kesuburan tanah yang menjadi nilai
unggul untuk pertanian ini semestinya jangan sampai tergerus akibat kerusakan
lingkungan. Pada umumnya budidaya tanaman yang dilakukan para petani lokal di
kawasan Cijapati adalah tanaman sayuran (hortikultura) dan palawija.
Menyedihkan bila kita menjumpai di
kawasan Cijapati ini terdapat lahan-lahan tandus dan kritis akibat penebangan
pohon yang tidak terkendali tanpa penanaman kembali (reboisasi) dan ekspansi
perluasan areal pertanian tanpa memperdulikan kelestarian lingkungan.
Sudah selayaknya kehadiran negara
dalam hal ini adalah Pemerintah Pusat, Propinsi Jawa Barat, dan Kabupaten
Bandung turun tangan dalam menanggulangi kerusakan lahan-lahan tandus dan
kritis di kawasan Cijapati. Bila dibiarkan tanpa penanggulangan bukan sebuah
hal yang mustahil bila keadaan itu mendatangkan bencana bukan hanya untuk
masyarakat yang berada di kawasan Cijapati tetapi juga ke kawasan lain yang
posisi geografisnya jauh berada di bawah ketinggian kawasan Cijapati.
4.
Peternakan di Kawasan Cijapati
Kawasa Cijapati juga merupakan
kawasan yang memiliki keunggulan untuk melakukan peternakan berbagai jenis
hewan ternak seperti kambing, domba, maupun sapi. Kebutuhan daging segar baik
untuk kebutuhan sehari-hari maupun pada moment tertentu seperti hari raya iedul
fitri dan hari raya iedul adha di Kabupaten Bandung dan kabupaten-kabupaten
lain di Jawa Barat bahkan sampai keluar Jawa Barat salah satunya dipenuhi oleh
hasil peternakan yang berada di Kawasan Cijapati.
Beberapa perusahaan peternakan besar
maupun peternakan masyarakat telah tumbuh dan berkembang di kawasan Cijapati
mendatangkan kemajuan dan kesejahteran. Sudah selayaknya kemajuan dan
kesejahteraan itu bukan hanya menjadi kenikmatan bagi para investor besar namun
yang paling penting adalah kesejahteraan dan kemajuan masyarakat yang berada di
kawasan ini sehingga mereka tidak menjadi kuli di daerahnya sendiri.
Limbah produksi peternakan sapi di
kawasan Cijapati ini memerlukan penanganan dan penataan yang tepat agar tidak
merusak kesejukan udara Cijapati yang bersih dan segar. Kotoran sapi baik tanpa
pengolahan apalagi setelah melalui pengolahan tentu dapat dijadikan sebagai
salah satu jenis pupuk organik yang dapat menjadi tambahan pendapatan
masyarakat setempat dalam usaha mereka membentuk salah satu sentra pupuk
organik.
5.
Cijapati Sebagai Jalur Alternatif Bandung-Garut
Bila kita mendapati kepadatan dan kemacetan
kendaraan pada jalur transfortasi Jalan Raya Bandung – Garut hususnya pada
moment-moment hari raya maka jalur transfortasi darat Cijapati menjadi salah
satu alternatifnya. Jalur alternatif Cijapati ini merupakan jalur transfortasi
panjang dan berkelok-kelok melintasi beberapa desa di Kecamatan Cikancung
Kabupaten Bandung, desa-desa itu adalah Desa Ciluluk, Desa Srirahayu, dan Desa
Mekar Laksana. Selebihnya jalur alternatif transfortasi ini berada di Kabupaten
Garut. Panjang keseluruhan jalur alternatif ini mencapai kurang lebih 28 km.
Pembangunan dan pemeliharaan infra
struktur yang baik berupa jalan raya, saluran drainase jalan, dan talud penahan
tanah longsor menjadi bagian penting dalam hal ini. Sampai saat ini perjalanan
di jalur alternatif Cijapati masih merupakan salah satu pintu masuk dan keluar
dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
6.
Cijapati Sebagai Kawasan Potensial Untuk
Berbagai Wisata
Indahnya suasana alam dan berbagai
keunggulan yang dimiliki kawasan Cijapati sesungguhnya akan menginspirasi
berbagai pihak untuk menjadikan kawasan ini sebagai sebuah kawasan wisata di
ujung timur Kabupaten Bandung. Political
will Pemerintah Kabupaten Bandung menjadi salah satu penentu perumusan
rencana tata ruang yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJPD) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Pemerintah Kabupaten Bandung.
Berbagai potensi wisata dapat
dibangun dan dikembangkan di kawasan Cijapati, baik wisata alam, wisata
edukasi, wisata agro, wisata kuliner, dan berbagai wisata lainnya. Tentu saja
pembangunan berbagai potensi wisata ini memerlukan perhatian husus dan anggaran
yang dapat bersumber dari anggaran pembangunan pemerintah maupun non pemerintah
(swasta).
Perintisan dan pembangunan secara
berkelanjutan berbagai fasilitas wisata di kawasan ini akan menjadi kemajuan
tersendiri bagi Kabupaten Bandung dan kesejahteraan untuk masyarakat Cijapati
hususnya.
7.
Cijapati dan Sentuhan Teknologi Komunikasi
Pada zaman globalisasi dan teknologi
komunikasi yang setiap detik terus mengalami kemajuan demi kemajuan ini
tidaklah pantas bila masih kita jumpai berbagai keterbelakangan dan
ketertinggalan sarana dan media komunikasi yang penting bagi kemajuan
pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Cijapati merupakan sebuah kawasan
yang sangat memerlukan sentuhan teknologi guna merintis kemajuan bagi
masyarakat dan daerahnya. Di kawasan ini teramat sangat minim kalu pun tidak
kita katakana tidak ada sarana teknologi terkini untuk membuka jaringan
komunikasi yang seluas-luasnya dengan dunia luar.
Investasi profider berbagai
perusahaan telekomunikasi seakan enggan untuk menurunkan anggaran mereka dalam
investasi teknologi komunikasi di kawasan ini. Akibatnya jangan heran ketika
kita berada di kawasan ini teramat sulit kita menemukan signal di telepon
genggam kita kecuali di daerah-daerah tertentu. Yang teramat menyedihkan adalah
ketertinggalan kawasan ini dari berbagai informasi dan jendela-jendela
pengetahuan yang seharusnya dapat diakses dengan mudah melalui internet.
8.
Cijapati dan Berbagai Fasilitas Umum
Jika kita mengamati Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) di kawasan ini jangan heran jika kita tidak melihat
sesuatu yang menggembirakan. Berbagai sarana pendukung IPM teramat minim atau hampir
tidak kita jumpai di kawasan ini. Kita belum menjumpai sebuah Puskesmas atau Rumah
Sakit di kawasan ini, sekarang kita baru melihat sebuah rintisan pembangunan
Puskesmas yang berada di Desa Ciluluk. Kita juga belum menemukan sekolah lanjutan
tingkat atas yang representatif untuk pembangunan kecerdasan generasi bangsa di
kawasan ini, yang baru kita jumpai adalah sebuah rintisan Madrasah Aliyah di
Desa Mekar Laksana.
Demikianlah keadaan kawasan Cijapati
saat ini, semoga tulisan ini menginspirasi banyak pihak hususnya Pemerintah
Daerah Kabupaten Bandung, terutama setelah terlaksananya pemilihan kepala
daerah Kabupaten Bandung yang mendudukan kembali Bapak H.Dadang M.Naser
S.H.,S.Ip.,M.IPol sebagai Bupati Kabupaten Bandung Periode 2015 – 2020.
Eksistensi Pemerintah Kabupaten
Bandung menjadi sangat penting dan berarti bagi kawasan Cijapati agar kawasan
ini mendapat sentuhan lebih baik dan berkelanjutan melalui anggaran-anggaran
pembangunan pemerintah dalam berbagai bidang. Eksistensi Pemerintah Kabupaten
Bandung juga menjadi sangat penting untuk menghadirkan dan mengarahkan para
investor dalam berbagai bidang agar pembangunan menjadi semakin baik melalui
anggaran pihak swasta.
Kepada seluruh pihak yang sangat
mencintai kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat bangsa ini, marilah
kita saling mendukung agar tidak ada satu jengkal daerah di tanah air kita yang
berada dalam keterbelakangan, ketertinggalan, kemiskinan, kesengsaraan dan
berbagai kondisi buruk lainnya.
Didedikasikan Untuk Kemajuan Pembangunan
dan
Kesejahteraan Masyarakat di Kawasan
Cijapati
Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung.
Ditulis Oleh : Rizal Perdana Kusumah
Peneliti “TANYA ACADEMIA – for better
knowledge and life” Bandung – Jawa Barat.

No comments:
Post a Comment