cijapati

Tanya academia cijapati

Tuesday, December 15, 2015

CIJAPATI


“CIJAPATI… ASET POTENSIAL”
UJUNG TIMUR KABUPATEN BANDUNG
MENANTI SENTUHAN KEMAJUAN       
Tinjauan Filosofis
Ketika Tuhan mencipta alam semesta tentu saja semuanya telah berada dalam keseimbangan. Bumi sebagai salah satu bagian kecil semesta ini telah dikomposisikan sedemikian rupa dalam perbandingan lautan, pegunungan, hutan, dan lain sebagainya dengan sebaik mungkin. Indonesia merupakan salah satu hamparan keseimbangan dunia, disamping sebagai bagian penting keseimbangan dunia Indonesia juga merupakan salah satu fenomena menawan dunia. Hamparan hijau hutan Indonesia merupakan salah satu bagian penting paru-paru dunia. Namun seiring perjalanan sang waktu dan perkembangan zaman perlahan tapi pasti paru-paru dunia itu mengalami penderitaan.
Adalah sebuah keniscayaan bila waktu terus bergulir, ada masa lalu, hari ini dan masa yang akan datang. Manusia pun mengalami perkembangan dalam menjalani kehidupannya. Secara umum kita memahami bahwa manusia adalah subjek utama dalam ekosistem. Lingkungan hidup dimana manusia berada sering kali menjadi objek yang diperlakukan manusia sekehendaknya saja, tanpa pertimbangan jauh ke depan manusia sering kali mengeksploitasi lingkungan hidup secara antroposentris alias keegoisan sesaat manusia hanya untuk saat itu saja tanpa peduli bagaimana keadaan lingkungan hidup di masa yang akan datang.
Saat sikap dan tindakan antroposentris itu muncul sampai ahirnya merajalela dengan begitu liar sudah bisa dipastikan yang akan kita jumpai adalah kerusakan dan kehancuran. Pada tahap awal mungkin hanya sedikit saja yang rusak, namun lama kelamaan kerusakan itu akan semakin meluas sampai ahirnya berubah menjadi kehancuran dan kebinasaan yang sulit untuk diperbaiki bahkan akal sehat kita tidak sanggup lagi memberi solusi untuk menanggulangi kerusakan itu.
Tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun bahwa kebutuhan hidup manusia berupa sandang, pangan, papan dan lain-lain menjadi argumentasi utama manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan hidupnya. Satu hal mendasar yang sering kita lupa adalah bagaimana kita bertindak bukan sekedar mengambil manfaat pada sumber daya alam tetapi juga menjaga kelestarian sumber daya alam itu dengan sebaik-baiknya. Manusia bukan dilarang untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada namun juga pemanfaatan itu memerlukan kearifan manusia sehingga apa pun yang manusia lakukan terhadap seluruh sumber daya yang ada semuanya selalu berwawasan lingkungan dan untuk kelestarian jangka panjang.
Membangun kesadaran hidup dengan kearifan berwawasan lingkungan dan untuk kelestarian jangka panjang bisa sangat mudah dilakukan namun boleh jadi hal itu pun menjadi sangat sulit dan melelahkan untuk mewujudkannya. Mulailah belajar untuk bersikap penuh perhatian dan tanggung jawab, tinggalkanlah sikap apriori acuh tak acuh dan masa bodoh dengan apa pun yang sedang terjadi di lingkungan hidup kita. Manusia bukanlah sekedar mahluk yang memiliki tanggung jawab moral untuk selalu berbuat kebaikan, menghindari segala sesuatu yang mengakibatkan kerusakan dan kehancuran, namun juga siap berjuang dan berkorban untuk merubah kerusakan menjadi kebaikan.
Dengan kerangka dan landasan berpikir filosofis seperti itulah kita akan memiliki kesadaran manusiawi yang sangat berharga untuk peradaban. Dengan kerangka berpikir filosofis itu juga kita menjadi sangat faham dan yakin bahwa tidak ada nikmat Tuhan yang telah diberikan-Nya kepada kita tanpa pertanggungjawaban baik sekarang maupun kelak.

Kabupaten Bandung Dari Masa Ke Masa
Pesona Indonesia dapat dilihat secara kasat mata melalui berbagai panorama alamnya. Siapa yang tidak tergiur melihat keindahan alam Indonesia ? maka berbondong-bondonglah para penguasa dunia berdatangan ke Indonesia. Niyat busuk mereka dibuktikan dengan biadabnya penjajahan yang begitu menyakitkan dalam lembaran sejarah kehidupan bangsa Indonesia.
Salah satu wilayah yang mempesona di Indonesia dalam pandangan para penjajah itu adalah Bandung. Konon katanya bandung berasal dari kata bendung saat terjadi letusan gunung Tangkuban Parahu yang seluruh material letusan tersebut membendung aliran sungai Citarum dan terbentuklah telaga, telaga yang terbendung inilah yang menginspirasi kata Bandung.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata bandung diambil pada saat pelayaran yang dilakukan oleh Adipati Wiranatakusumah II ketika beliau menggunakan dua buah perahu yang diikat secara berdampingan dalam upaya mencari daerah yang tepat untuk memindahkan ibu kota Kabupaten dari Karapyak (sekarang Dayeuhkolot) berdasarkan perintah Gubernur Jendral pemerintah penjajah Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels. Ahirnya perahu yang beliau gunakan disebut perahu bandung, begitu juga daerah yang beliau tunjuk selanjutnya disebut Bandung. 
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata bandung diambil dari makna filosofis sebuah ungkapan Sunda klasik Nga-Bandung-an Banda Indung, dalam bahasa Sunda ngabandungan artinya menyaksikan atau memperhatikan dengan sebaik-baiknya, banda artinya seluruh kekayaan, sedangkan indung yang dimaksud adalah Ibu Pertiwi dalam sinonim bahasa Indonesia. Secara filosofis Bandung dimaknai dengan menyaksikan, memperhatikan, dan merawat dengan sebaik-baiknya seluruh kekayaan Ibu Pertiwi.
Menurut beberapa riwayat sejarah, setelah kerajaan utama di tanah sunda yaitu Kerajaan Padjadjaran mengalami kemunduran, terjadi ekspansi dari kerajaan Islam Mataram di tanah Jawa termasuk juga ke wilayah Priangan. Kabupaten Bandung lahir untuk pertama kali melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada tanggal 9 Muharam tahun Alif atau sama dengan hari Sabtu tanggal 20 April 1632 Masehi. Bupati pertamanya adalah Tumenggung Wiraangunangun alias Ki Astamanggala  yang memerintah dari tahun 1632-1681 M. Dari bukti sejarah tersebut ditetapkan bahwa tanggal 20 April sebagai hari jadi Kabupaten Bandung. Setelah Tumenggung Wiraangunangun, Bupati Bandung dilanjutkan oleh salah seorang putranya yaitu Tumenggung Nyili. Tumenggung Nyili tidak lama memangku jabatan itu karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan Bupati Bandung kemudian dilanjutkan oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) pada tahun 1681-1704 M.
Selanjutnya kedudukan Bupati Bandung dilanjutkan oleh putra Tumenggung Ardikusumah, yaitu Tumenggung Ardisuta yang diangkat tahun 1704 setelah pemerintah penjajah Hindia-Belanda mengadakan pertemuan dengan para bupati sepriangan di Cirebon. Saat itulah yang menjadi awal campur tangannya pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda terhadap Kabupaten Bandung.  R.Ardisuta (1704-1747) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia sering disebut Dalem Gordah. Sebagai penggantinya diangkat putra tertuanya yaitu Demang Hatapraja yang bergelar Tumenggung Anggadiredja II (1747-1763).
Pada masa pemerintahan Anggadiredja III alias R.Wiranatakusumah I (1769-1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukan Batulayang ke dalam pemerintahannya.
Pada masa pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II (1794-1829) ibu kota pemerintahan Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke tepi sungai Cikapundung atau alun-alun Kota Bandung sekarang. Pemindahan ibu kota itu atas dasar perintah dari Gubernur Jendral penjajah kolonial Hindia-Belanda Herman Willem Daendels tanggal 25 September 1810, dengan alasan wilayah baru tersebut dinilai akan memberikan prospek lebih baik untuk kemajuan Kabupaten Bandung. Setelah pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II, Bupati Bnadung dilanjutkan oleh Adipati Wiranatakusumah III (1829-1846).
Setelah kepala pemerintahan dipegang oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874) ibu kota Kabupaten Bandung berkembang pesat dan dia dikenal dengan Bupati Bandung yang progresif. Dialah peletak dasar master plan Kabupaten Bandung yang disebut Negorij Bandoeng. Tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Mesjid Agung. Selanjutnya dia juga memprakarsai berdirinya Sekolah Raja (Pendidikan Guru) dan mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding School Voor Indische Ambtenaarent). Atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Bandung di berbagai bidang, dia mendapatkan penghargaan dari pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda berupa Bintang Jasa, sehingga masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Dalem Bintang.
Pada masa awal kekuasaan pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda, Bandung hanyalah sebuah perkampungan kecil di tengah-tengah lebatnya belantara pepohonan, bahkan jalan Braga yang kemudian melegenda di Bandung saat ini masih berupa jalan tanah yang masih becek dan kotor bila turun hujan. Pada tahun 1810, mulailah perubahan terhadap Bandung dilakukan oleh pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda melalui Gubernur Jendralnya waktu itu Herman Willem Daendels yang mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Kampung Bandung mulai ditata dan kemudian mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman. Di kemudian hari peristiwa pada tanggal 25 September ini diabadikan sebagai hari jadi Kota Bandung.
Tahun 1896 Kampung Bandung telah mengalami serangkaian perubahan dalam penataan pemerintah penjajah kolonial Hindia-Belanda. Penduduknya yang terdata sebanyak 29.382 orang di antaranya 1.250 orang berkebangsaan Eropa dan mayoritas orang Belanda.
Salah satu bentuk eksploitasi penjajah di seluruh tanah air Indonesia adalah dengan membentuk berbagai perkebunan di bumi nusantara yang memang sangat subur. Begitu juga yang terjadi dengan kawasan Bandung dan sekitarnya. Dimulailah penebangan pepohonan, pembukaan hutan-hutan untuk selanjutnya dirubah menjadi lahan-lahan perkebunan sebagai bentuk penguasaan para penjajah kepada orang-orang pribumi dengan melakukan tanam paksa perkebunan atau yang dicatat dalam sejarah kelam bangsa kita adalah cultuure Stelsel.
Sejarahwan Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeleo mengatakan bahwa salah satu julukan kota Bandung adalah kota kembang yang menurutnya berasal dari peristiwa pada tahun 1896 saat Besturr van de Vereniging van Suikerplnters (Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula) yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongresnya yang pertama.
Tuan Jacob sebagai panitya kongres mendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan “kembang-kembang”. Kembang yang dimaksud adalah kembang dayang yang dalam bahasa sunda sama dengan WTS (wanita tuna susila) atau PSK (pekerja sex komersial) yang saat itu adalah “noni-noni cantik indo-belanda” dari wilayah perkebunan Pasirmalang (merupakan bagian dari perkebunan teh Malabar di Pangalengan) untuk menghibur para pengusaha gula tersebut.
Setelah kongres para tamu menyatakan sangat puas dan kongres dikatakan sukses besar. Dari mulut para peserta kongres itu kemudian muncul istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergstend, atau Bandung sebagai bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda. Dari situlah munculnya julukan kota kembang untuk Bandung.
Dalam buku Otobiografi Entin Supriatin, Deritapun dapat ditaklukan, Mitra Media Pustaka, Bandung (2006) disebutkan, bandung dikenal dengan sebutan Parisj van Java atau Paris-nya Pulau Jawa. Mungkin sebagian kita sekarang mengira bahwa istilah ini muncul dari keindahan Bandung yang sama dengan keindahan Paris, padahal bukan itu maksud mereka (penjajah kolonial Hindia-Belanda). Julukan Parisj van Java muncul karena pada waktu itu di jalan Braga terdapat banyak toko yang menjual barang-barang terutama pakaian sisa pameran modeling yang diselenggarakan di Paris. Di jalan Braga juga pada waktu itu sering digelar kontes dan peragaan busana mengikuti kontes dan peragaan busana di Paris. Toko yang terkenal di antaranya adalah toko mode dan pakaian Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita mode Paris.
Ada juga restoran Maison Bogerijen yang menjual makanan khas Paris yang menjadi tempat santap para pejabat dan pengusaha penjajah kolonial Hindia-Belanda atau Eropa. Mereka begitu nyaman menikmati santap dan belanja mereka di Bandung seakan-akan sedang berada di Paris. Dari situlah julukan Parisj van Java untuk kota Bandung mulai muncul.
Sejak zaman penjajahan kolonial Hindia-Belanda hutan Indonesia telah dibuka dengan proyeksi menjadi areal-areal perkebunan teh, kina, kopi, tebu, rempah-rempah, dan berbagai komoditi lain yang sedang mahal harganya di pasar perdagangan dunia saat itu.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945, berahirlah berbagai eksploitasi penjajah kolonial Hindia-Belanda dan penjajahan Jepang di tanah air. Adalah benar adanya bila para penjajah itu mewariskan kepada kita berbagai perkebunan di seantero nusantara, namun tidak dapat dipungkiri juga warisan pembukaan hutan belantara nusantara telah menjadi cikal bakal kerusakan selanjutnya.
Negara dan bangsa Indonesia dalam berbagai orde pemerintahannya baik Orde Lama, Orde Baru, atau pun Masa Reformasi sampai saat ini tidak mampu menghentikan berbagai eksploitasi hutan dan melestarikan hutan sebagaimana layaknya. Bahkan dapat dikatakan bila bentuk eksploitasi pemerintah Indonesia lebih parah bila dibandingkan dengan eksplotasi para penjajah. Untuk membuktikan itu semua kita tidak perlu melakukan survey, research dan penelitian, semuanya telah terpampang di depan mata kita. Sungguh ironi yang menyesakkan dan menyakitkan dada kita semua.
Kabupaten Bandung sekarang berbeda dengan Kaboepaten Bandoeng Tempo doeloe. Kabupaten Bandung yang kita lihat sekarang adalah salah satu Kabupaten dalam wilayah Pemerintahan Daerah Propinsi Jawa Barat. Perjalanan panjang Kabupaten Bandung dari masa ke masa telah memekarkan dirinya menjadi beberapa pemerintahan daerah, dari pemekaran itu telah melahirkan Pemerintahan Daerah Kota Bandung, Pemerintahan Daerah Kota Cimahi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Bandung Barat. 
Dari perjalanan panjang Kabupaten Bandung itu tentu saja telah mendokumentasikan begitu banyak nama sebagai Bupati Kabupaten Bandung sejak saat pertama hingga saat ini.
Saat ini Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati H.Dadang M.Naser S.H.,S.Ip.,M.IPol untuk masa jabatan 2010 – 2015. Kabupaten Bandung juga merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang telah melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak secara langsung pada gelombang pertama yang jatuh pada hari Rabu tanggal 9 Desember 2015. Hasil pilkada langsung serentak di Kabupaten Bandung itu telah dimenangkan kembali oleh Bapak H.Dadang M.Naser S.H.,S.Ip.,M.IPol untuk jabatan Bupati Kabupaten Bandung periode 2015 – 2020.  
Setelah perjalanan panjang Kabupaten Bandung yang mengalami perubahan demi perubahan dalam segala hal termasuk di dalamnya pemekaran wilayah dan pemerintahan daerah maka, secara geografis luas Kabupaten Bandung hari ini adalah 1.762,39 km2 dengan ibu kota pemerintahannya Soreang. Sedangkan batas geografis yang berbatasan dengan beberapa kabupaten dan kota adalah di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Garut, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat.

Cijapati Dalam Berbagai Perspektif
1. Posisi Geografis Cijapati
Secara geografis kawasan cijapati merupakan sebuah kawasan yang berada dalam wilayah administrasi dua desa di Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung, dua desa itu adalah Desa Srirahayu dan Desa Mekar Laksana.
Cijapati merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk yang mata airnya berada di Kabupaten Garut mengalir sampai ke Kabupaten Sumedang, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarik yang mata airnya berada di Kabupaten Sumedang mengalir menuju Sungai Citarum di Kabupaten Bandung sampai ke Kabupaten Purwakarta.
Kawasan Cijapati berada pada ketinggian kurang lebih 1.000 – 1.200 meter di atas permukaan laut, dengan suhu yang berkisar antara 18-300 Celcius. Udara yang sejuk dan segar sangat jauh dari polutan industri menjadikan kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang tepat untuk mendapatkan sentuhan maksimal program-program unggulan pemerintah baik pusat, propinsi  maupun kabupaten serta para investor dari pihak swasta.
Sampai saat ini kawasan Cijapati masih merupakan kawasan yang belum diberdayakan secara maksimal oleh berbagai program. Salah satu aset potensial di ujung timur Kabupaten Bandung ini merupakan aset yang menjanjikan kemajuan bagi semua pihak bila dikelola secara arif dan berkepanjangan serta berwawasan lingkungan.

2. Hutan Cijapati dan  Gunung Mandalawangi
Di kawasan Cijapati juga terdapat sebuh gunung yang menjadi batas alam antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut. Gunung itu adalah Gunung Mandalawangi dengan ketinggian kurang lebih 1.650 meter di atas permukaan laut, sedangkan katagori hutan Gunung Mandalawangi adalah hutan lindung yang berada dalam pengelolaan Kesatuan Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Mandalawangi yang merupakan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ciparay dalam naungan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bandung Selatan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat.
Hutan di Gunung Mandalawangi ini memiliki populasi pohon yang variatif. Hutan Cijapati yang termasuk ke Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung merupakan sebagian wilayah administrasi dari dua desa, yaitu Desa Mekar Laksana dan Desa Mandalasari.
Sampai saat ini keberadaan hutan lindung dan Gunung Mandalawangi di kawasan Cijapati masih sebatas penyejuk pemandangan bagi para pengguna kendaraan bermotor dan roda empat yang sedang melintasi kawasan tersebut. Pemanfaatan yang belum maksimal ini baru pada sentuhan awal dengan membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan luas pengelolaan seluas kurang lebih 400 hektar dengan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) berupa penanaman dan pembudidayaan pohon kopi di areal tersebut.
Penertiban LMDH yang sekarang ini dikelola oleh dua LMDH, yaitu LMDH Mekar Mandalawangi yang berada di Desa Mekar Laksana dan LMDH Mandalasari yang berada di Desa Mandalasari dalam pengelolaan hutan lindung Cijapati bersama Perhutani Unit III Jawa Barat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung bagaimana pun harus terus mendapatkan perhatian berbagai pihak agar pengelolaan ini mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kemajuan masyarakat tetapi juga dapat menekan kerusakan lingkungan hidup dengan sekecil-kecilnya.
Rintisan hutan wisata yang terletak di Desa Mekar Laksana seluas kurang lebih 12 hektar dari 400 hektar yang telah dikelola dalam program PHBM oleh LMDH dan telah mendapat persetujuan dari pihak Perhutani Unit III Jawa Barat yang dalam hal ini diwakili oleh Asper (Asisten Perhutani) dan Muspika Kecamatan Cikancung, karena satu dan lain hal ahirnya dihentikan oleh pihak Muspika yang sebelumnya telah ikut menyetujui hal tersebut. Entah kapan keberlangsungan hutan wisata yang terhenti perintisannya itu akan terwujud kembali.

3. Pertanian di Kawasan Cijapati
Kawasan Cijapati memiliki sekian banyak keunggulan di antaranya adalah tanah yang gembur dan subur untuk melakukan budidaya tanaman dalam aktifitas pertanian. Kesuburan tanah yang menjadi nilai unggul untuk pertanian ini semestinya jangan sampai tergerus akibat kerusakan lingkungan. Pada umumnya budidaya tanaman yang dilakukan para petani lokal di kawasan Cijapati adalah tanaman sayuran (hortikultura) dan palawija.
Menyedihkan bila kita menjumpai di kawasan Cijapati ini terdapat lahan-lahan tandus dan kritis akibat penebangan pohon yang tidak terkendali tanpa penanaman kembali (reboisasi) dan ekspansi perluasan areal pertanian tanpa memperdulikan kelestarian lingkungan.
Sudah selayaknya kehadiran negara dalam hal ini adalah Pemerintah Pusat, Propinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Bandung turun tangan dalam menanggulangi kerusakan lahan-lahan tandus dan kritis di kawasan Cijapati. Bila dibiarkan tanpa penanggulangan bukan sebuah hal yang mustahil bila keadaan itu mendatangkan bencana bukan hanya untuk masyarakat yang berada di kawasan Cijapati tetapi juga ke kawasan lain yang posisi geografisnya jauh berada di bawah ketinggian kawasan Cijapati.

4. Peternakan di Kawasan Cijapati
Kawasa Cijapati juga merupakan kawasan yang memiliki keunggulan untuk melakukan peternakan berbagai jenis hewan ternak seperti kambing, domba, maupun sapi. Kebutuhan daging segar baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun pada moment tertentu seperti hari raya iedul fitri dan hari raya iedul adha di Kabupaten Bandung dan kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat bahkan sampai keluar Jawa Barat salah satunya dipenuhi oleh hasil peternakan yang berada di Kawasan Cijapati.
Beberapa perusahaan peternakan besar maupun peternakan masyarakat telah tumbuh dan berkembang di kawasan Cijapati mendatangkan kemajuan dan kesejahteran. Sudah selayaknya kemajuan dan kesejahteraan itu bukan hanya menjadi kenikmatan bagi para investor besar namun yang paling penting adalah kesejahteraan dan kemajuan masyarakat yang berada di kawasan ini sehingga mereka tidak menjadi kuli di daerahnya sendiri.
Limbah produksi peternakan sapi di kawasan Cijapati ini memerlukan penanganan dan penataan yang tepat agar tidak merusak kesejukan udara Cijapati yang bersih dan segar. Kotoran sapi baik tanpa pengolahan apalagi setelah melalui pengolahan tentu dapat dijadikan sebagai salah satu jenis pupuk organik yang dapat menjadi tambahan pendapatan masyarakat setempat dalam usaha mereka membentuk salah satu sentra pupuk organik.

5. Cijapati Sebagai Jalur Alternatif Bandung-Garut
Bila kita mendapati kepadatan dan kemacetan kendaraan pada jalur transfortasi Jalan Raya Bandung – Garut hususnya pada moment-moment hari raya maka jalur transfortasi darat Cijapati menjadi salah satu alternatifnya. Jalur alternatif Cijapati ini merupakan jalur transfortasi panjang dan berkelok-kelok melintasi beberapa desa di Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung, desa-desa itu adalah Desa Ciluluk, Desa Srirahayu, dan Desa Mekar Laksana. Selebihnya jalur alternatif transfortasi ini berada di Kabupaten Garut. Panjang keseluruhan jalur alternatif ini mencapai kurang lebih 28 km.
Pembangunan dan pemeliharaan infra struktur yang baik berupa jalan raya, saluran drainase jalan, dan talud penahan tanah longsor menjadi bagian penting dalam hal ini. Sampai saat ini perjalanan di jalur alternatif Cijapati masih merupakan salah satu pintu masuk dan keluar dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

6. Cijapati Sebagai Kawasan Potensial Untuk  Berbagai Wisata
Indahnya suasana alam dan berbagai keunggulan yang dimiliki kawasan Cijapati sesungguhnya akan menginspirasi berbagai pihak untuk menjadikan kawasan ini sebagai sebuah kawasan wisata di ujung timur Kabupaten Bandung. Political will Pemerintah Kabupaten Bandung menjadi salah satu penentu perumusan rencana tata ruang yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemerintah Kabupaten Bandung.
Berbagai potensi wisata dapat dibangun dan dikembangkan di kawasan Cijapati, baik wisata alam, wisata edukasi, wisata agro, wisata kuliner, dan berbagai wisata lainnya. Tentu saja pembangunan berbagai potensi wisata ini memerlukan perhatian husus dan anggaran yang dapat bersumber dari anggaran pembangunan pemerintah maupun non pemerintah (swasta).
Perintisan dan pembangunan secara berkelanjutan berbagai fasilitas wisata di kawasan ini akan menjadi kemajuan tersendiri bagi Kabupaten Bandung dan kesejahteraan untuk masyarakat Cijapati hususnya.
7. Cijapati dan Sentuhan Teknologi Komunikasi
Pada zaman globalisasi dan teknologi komunikasi yang setiap detik terus mengalami kemajuan demi kemajuan ini tidaklah pantas bila masih kita jumpai berbagai keterbelakangan dan ketertinggalan sarana dan media komunikasi yang penting bagi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Cijapati merupakan sebuah kawasan yang sangat memerlukan sentuhan teknologi guna merintis kemajuan bagi masyarakat dan daerahnya. Di kawasan ini teramat sangat minim kalu pun tidak kita katakana tidak ada sarana teknologi terkini untuk membuka jaringan komunikasi yang seluas-luasnya dengan dunia luar.
Investasi profider berbagai perusahaan telekomunikasi seakan enggan untuk menurunkan anggaran mereka dalam investasi teknologi komunikasi di kawasan ini. Akibatnya jangan heran ketika kita berada di kawasan ini teramat sulit kita menemukan signal di telepon genggam kita kecuali di daerah-daerah tertentu. Yang teramat menyedihkan adalah ketertinggalan kawasan ini dari berbagai informasi dan jendela-jendela pengetahuan yang seharusnya dapat diakses dengan mudah melalui internet.

8. Cijapati dan Berbagai Fasilitas Umum
Jika kita mengamati Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di kawasan ini jangan heran jika kita tidak melihat sesuatu yang menggembirakan. Berbagai sarana pendukung IPM teramat minim atau hampir tidak kita jumpai di kawasan ini. Kita belum menjumpai sebuah Puskesmas atau Rumah Sakit di kawasan ini, sekarang kita baru melihat sebuah rintisan pembangunan Puskesmas yang berada di Desa Ciluluk. Kita juga belum menemukan sekolah lanjutan tingkat atas yang representatif untuk pembangunan kecerdasan generasi bangsa di kawasan ini, yang baru kita jumpai adalah sebuah rintisan Madrasah Aliyah di Desa Mekar Laksana.
Demikianlah keadaan kawasan Cijapati saat ini, semoga tulisan ini menginspirasi banyak pihak hususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, terutama setelah terlaksananya pemilihan kepala daerah Kabupaten Bandung yang mendudukan kembali Bapak H.Dadang M.Naser S.H.,S.Ip.,M.IPol sebagai Bupati Kabupaten Bandung Periode 2015 – 2020.
Eksistensi Pemerintah Kabupaten Bandung menjadi sangat penting dan berarti bagi kawasan Cijapati agar kawasan ini mendapat sentuhan lebih baik dan berkelanjutan melalui anggaran-anggaran pembangunan pemerintah dalam berbagai bidang. Eksistensi Pemerintah Kabupaten Bandung juga menjadi sangat penting untuk menghadirkan dan mengarahkan para investor dalam berbagai bidang agar pembangunan menjadi semakin baik melalui anggaran pihak swasta.
Kepada seluruh pihak yang sangat mencintai kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat bangsa ini, marilah kita saling mendukung agar tidak ada satu jengkal daerah di tanah air kita yang berada dalam keterbelakangan, ketertinggalan, kemiskinan, kesengsaraan dan berbagai kondisi buruk lainnya.  


Didedikasikan Untuk Kemajuan Pembangunan dan
Kesejahteraan Masyarakat di Kawasan Cijapati
Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung.
Ditulis Oleh : Rizal Perdana Kusumah
Peneliti “TANYA ACADEMIA – for better knowledge and life” Bandung – Jawa Barat.


                                                                             

No comments:

Post a Comment