cijapati

Tanya academia cijapati

Wednesday, December 16, 2015

REVIEW HAJJI DAN UMROH DALAM SPIRITUALITAS KEBERAGAMAAN PADA PENDEKATAN SUFISTIK DAN SOSIAL

REVIEW HAJJI DAN UMROH
DALAM SPIRITUALITAS KEBERAGAMAAN
PADA PENDEKATAN SUFISTIK DAN SOSIAL


1.      Sejarah hajji untuk pertama kali dilakukan Rasulullah saw dan pengikutnya saat itu adalah salah satu tonggak kejayaan muslim dan agama. Jejak sejarah hubungan timbal balik antara pelaksanaan ibadah hajji dan umroh dengan perjuangan melawan kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat seakan pupus dan terputus tiada bekas !

2.      Meski saat itu ada perbatasan wilayah tetapi tidak ada biaya dalam melintas batas darat atau udara. Aturan melintas perbatasan saat itu tidak seketat saat ini, hari ini teknologi berbeban biaya tinggi, logistik pun demikian, belum lagi hal-hal lainnya. Akibatnya ibadah hajji dan umroh menjadi ibadah yang mahal untuk dilakukan namun daya magisnya selalu memotivasi berbagai pihak dalam ummat ini.

3.      Kecintaan kepada Tuhan, sang nabi suci dan keluarganya serta ajaran sucinya mendorong ummat untuk berkorban demi ibadah yang mahal itu, sementara di sisi lain ada kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat dan agama yang mesti ditanggulangi dengan anggaran besar. Tidakkah terjadi tarik ulur kontroversi antara kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat dengan pelaksanaan hajji yang mahal ?

4.      Agama sebagai ajaran untuk memberi manfaat kepada ummat beragama dan sesama manusia. Keshalehan dalam beragama diwujudkan dengan keshalehan sosial bukan keshalehan personal semata. Sebaik-baik keberagamaan adalah saat memberi sebanyak-banyaknya manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia.

5.      Kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat dalam berbagai hal memerlukan penanganan serius melalui serangkaian program nyata dalam pemberdayaan. Pemberdayaan jelas memerlukan anggaran besar, sementara hajji dan umroh adalah ibadah personal dengan biaya yang sangat tinggi. Mengapa tidak yakin bila anggaran untuk hajji dan umroh diaplikasikan untuk pemberdayaan ummat itu sama saja dengan telah melaksanakan ibadah haji dan umroh ?!

6.      Agama bukan semata-mata aplikasi ubudiyyah/ritual dengan berbagai kayfiyat/tata acara dan upacaranya, agama merupakan serangkaian perjalanan intelektual, emosional dan spiritual yang holistik/integral dalam berbagai dimensi keberagamaan. Agama berdimensi intelektual, mistik, ritual, idiologikal, dan sosial.

7.      Sayyidul anbiya wal Imamul mursalin panutan alam semesta, Nabi saw pernah bersabda shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat, maka begitu juga dalam berhajji dan berumroh. Shalat, hajji, dan umroh yang dimaksud tentu bukan semata dalam kayfiyatnya belaka, bagaimana sebelumnya, seperti apa pada saatnya, dan setelahnya menjadi bagaimana. Ada dimensi keberagaaman dalam seluruh ibadah agama termasuk hajji dan umroh.

8.      Jika agama dijadikan sebagai media dan sarana untuk mengambil pendapatan dan keuntungan, jangan pernah salahkan jika muncul berbagai tanggapan negatif terhadap agama, para pemuka agama, dan para pelaksana ajaran agama. Jangan salahkan jika muncul kata-kata “agama adalah candu masyarakat” seperti yang pernah dikatakan Karl Marx dan berbagai paham anti agama. Perilaku mengatasnamakan agama namun hanya untuk keuntungan duniawi semata pada ahirnya akan berbuah menjadi cibiran dan ejekan.

9.      Mengapa hati hanya tergetar dan ahirnya “memaksakan diri” untuk berhajji dan berumroh dengan biaya yang demikian besar, sementara tangisan dan  pedihnya derita ummat tiada pernah menggetarkan hati ?! mengapa air mata menetes saat melihat tayangan keagungan Baytullah, Makkah, dan Madinah tetapi air mata seakan kering menetes saat melihat derita kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat dan sesama manusia. Adalah benar bila kita mempunyai berbagai jenis lembaga dan badan zakat, infaq, shadaqah, wakaf, dll, tetapi lembaga-lembaga itu hanya memberdayakan sebagian kecil dari harta yang kita sisihkan, bandingkan dengan besarnya biaya a sampai z untuk berhajji dan berumroh. Mengapa tidak yang besar itu yang kita peruntukkan dalam pemberdayaan ummat ?!

10.  Indonesia adalah salah satu negara penyumbang terbesar dalam penunaian anggaran hajji dan umroh. Apa manfaat untuk ummat di nusantara dengan hal tersebut ? Anggaran besar titipan ummat sering menjadi hal yang menggiurkan para penipu agama untuk melakukan penyelewengan-penyelewengan dan meraup keuntungan selama masa tunggu pelaksanaan hajji dan umroh, mereka menikmati dana titipan hajji dan umroh itu untuk kepentingan nafsu mereka. Lihatlah ummat yang terus saja hidup dalam derita kemiskinan, pedihnya keterbelakangan, dan sakitnya ketertindasan, tidakkah hal itu menggetarkan hati ?!  

11.  Pendidikan begitu mahal, jika ada “sekolah islam” sekolah itu terkenal karena biayanya yang mahal. Rumah sakit begitu juga, jika ada “rumah sakit islam” maka rumah sakit ini menjadi rumah sakit yang mahal juga. Bagaimana dengan penyediaan kebutuhan-kebutuhan ummat dalam menghadapi hidup sehari-hari ? semua serba mahal padahal anggaran terbesar dalam ummat selalu ada setiap saat, dan hampir semua selalu “memaksakan diri” untuk itu. Kapankah ada sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas kebutuhan ummat yang dapat dinikmati dengan harga yang murah apalagi gratis ?! jangan sedih bila Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mayoritas ummat beragama jauh dibawah mereka yang tidak beragama atau bahkan anti agama dan anti Tuhan.

12.  Review terhadap seluruh nilai-nilai ibadah hajji dan umroh secara integral dalam spiritualitas keberagamaan pada pendekatan sufistik dan sosial yang bermuara pada niyat tulus, perencanaan matang, dan aksi nyata secara baik dan benar seluruh donatur untuk mengambil bagian dalam perjuangan kemanusiaan melawan derita kemiskinan, pedihnya keterbelakangan, dan sakitnya ketertindasan menjadi kata kunci utama.

Semoga tulisan sederhana ini menginspirasi banyak pihak untuk berjuang dalam membangun keshalehan sosial dalam keberagamaan bukan semata-mata demi keshalehan personal apalagi menjadikan agama sebagai ladang keuntungan duniawi. Berhajji dan berumrohlah untuk kenajuan, kejayaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan fuqoro/orang-orang faqir dan masakin/orang-orang miskin.
Labbayk Allohumma Labbayk…Labbayka La Syarika Laka Labbayk…Innal Hamda wan-Ni’mata Laka wal Mulk…La Syarika Lak…
Hijjul Fuqoro wal Masakin….


### Didedikasikan Untuk Perjuangan Kemanusiaan Melawan Derita Kemiskinan, Pedihnya Keterbelakangan, dan Sakitnya Ketertindasan. Ditulis Oleh : Rizal Perdana Kusumah Peneliti “TANYA ACADEMIA : for better knowledge and life” Bandung – Jawa Barat. Email : rizalperdanakusumah@gmail.comrizalperdanakusumah@yahoo.com ###


  

No comments:

Post a Comment