1. Sejarah hajji
untuk pertama kali dilakukan Rasulullah saw dan pengikutnya saat itu adalah
salah satu tonggak kejayaan muslim dan agama. Jejak sejarah hubungan timbal
balik antara pelaksanaan ibadah hajji dan umroh dengan perjuangan melawan
kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat seakan pupus dan terputus
tiada bekas !
2. Meski saat
itu ada perbatasan wilayah tetapi tidak ada biaya dalam melintas batas darat
atau udara. Aturan melintas perbatasan saat itu tidak seketat saat ini, hari
ini teknologi berbeban biaya tinggi, logistik pun demikian, belum lagi hal-hal
lainnya. Akibatnya ibadah hajji dan umroh menjadi ibadah yang mahal untuk
dilakukan namun daya magisnya selalu memotivasi berbagai pihak dalam ummat ini.
3. Kecintaan
kepada Tuhan, sang nabi suci dan keluarganya serta ajaran sucinya mendorong
ummat untuk berkorban demi ibadah yang mahal itu, sementara di sisi lain ada
kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat dan agama yang mesti
ditanggulangi dengan anggaran besar. Tidakkah terjadi tarik ulur kontroversi antara
kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat dengan pelaksanaan hajji
yang mahal ?
4. Agama sebagai
ajaran untuk memberi manfaat kepada ummat beragama dan sesama manusia.
Keshalehan dalam beragama diwujudkan dengan keshalehan sosial bukan keshalehan
personal semata. Sebaik-baik keberagamaan adalah saat memberi
sebanyak-banyaknya manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia.
5. Kemiskinan, keterbelakangan,
dan ketertindasan ummat dalam berbagai hal memerlukan penanganan serius melalui
serangkaian program nyata dalam pemberdayaan. Pemberdayaan jelas memerlukan
anggaran besar, sementara hajji dan umroh adalah ibadah personal dengan biaya
yang sangat tinggi. Mengapa tidak yakin bila anggaran untuk hajji dan umroh
diaplikasikan untuk pemberdayaan ummat itu sama saja dengan telah melaksanakan
ibadah haji dan umroh ?!
6. Agama bukan
semata-mata aplikasi ubudiyyah/ritual dengan berbagai kayfiyat/tata acara dan
upacaranya, agama merupakan serangkaian perjalanan intelektual, emosional dan
spiritual yang holistik/integral dalam berbagai dimensi keberagamaan. Agama
berdimensi intelektual, mistik, ritual, idiologikal, dan sosial.
7. Sayyidul anbiya
wal Imamul mursalin panutan alam semesta, Nabi saw pernah bersabda shalatlah
kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat, maka begitu juga dalam berhajji
dan berumroh. Shalat, hajji, dan umroh yang dimaksud tentu bukan semata dalam
kayfiyatnya belaka, bagaimana sebelumnya, seperti apa pada saatnya, dan
setelahnya menjadi bagaimana. Ada dimensi keberagaaman dalam seluruh ibadah
agama termasuk hajji dan umroh.
8. Jika agama
dijadikan sebagai media dan sarana untuk mengambil pendapatan dan keuntungan,
jangan pernah salahkan jika muncul berbagai tanggapan negatif terhadap agama,
para pemuka agama, dan para pelaksana ajaran agama. Jangan salahkan jika muncul
kata-kata “agama adalah candu masyarakat” seperti yang pernah dikatakan Karl
Marx dan berbagai paham anti agama. Perilaku mengatasnamakan agama namun hanya
untuk keuntungan duniawi semata pada ahirnya akan berbuah menjadi cibiran dan
ejekan.
9. Mengapa hati hanya
tergetar dan ahirnya “memaksakan diri” untuk berhajji dan berumroh dengan biaya
yang demikian besar, sementara tangisan dan pedihnya derita ummat tiada pernah menggetarkan
hati ?! mengapa air mata menetes saat melihat tayangan keagungan Baytullah,
Makkah, dan Madinah tetapi air mata seakan kering menetes saat melihat derita
kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan ummat dan sesama manusia. Adalah
benar bila kita mempunyai berbagai jenis lembaga dan badan zakat, infaq,
shadaqah, wakaf, dll, tetapi lembaga-lembaga itu hanya memberdayakan sebagian
kecil dari harta yang kita sisihkan, bandingkan dengan besarnya biaya a sampai
z untuk berhajji dan berumroh. Mengapa tidak yang besar itu yang kita peruntukkan
dalam pemberdayaan ummat ?!
10. Indonesia
adalah salah satu negara penyumbang terbesar dalam penunaian anggaran hajji dan
umroh. Apa manfaat untuk ummat di nusantara dengan hal tersebut ? Anggaran
besar titipan ummat sering menjadi hal yang menggiurkan para penipu agama untuk
melakukan penyelewengan-penyelewengan dan meraup keuntungan selama masa tunggu
pelaksanaan hajji dan umroh, mereka menikmati dana titipan hajji dan umroh itu
untuk kepentingan nafsu mereka. Lihatlah ummat yang terus saja hidup dalam
derita kemiskinan, pedihnya keterbelakangan, dan sakitnya ketertindasan,
tidakkah hal itu menggetarkan hati ?!
11. Pendidikan
begitu mahal, jika ada “sekolah islam” sekolah itu terkenal karena biayanya
yang mahal. Rumah sakit begitu juga, jika ada “rumah sakit islam” maka rumah
sakit ini menjadi rumah sakit yang mahal juga. Bagaimana dengan penyediaan
kebutuhan-kebutuhan ummat dalam menghadapi hidup sehari-hari ? semua serba
mahal padahal anggaran terbesar dalam ummat selalu ada setiap saat, dan hampir
semua selalu “memaksakan diri” untuk itu. Kapankah ada sekolah, rumah sakit,
dan berbagai fasilitas kebutuhan ummat yang dapat dinikmati dengan harga yang
murah apalagi gratis ?! jangan sedih bila Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
mayoritas ummat beragama jauh dibawah mereka yang tidak beragama atau bahkan
anti agama dan anti Tuhan.
12. Review terhadap
seluruh nilai-nilai ibadah hajji dan umroh secara integral dalam spiritualitas
keberagamaan pada pendekatan sufistik dan sosial yang bermuara pada niyat
tulus, perencanaan matang, dan aksi nyata secara baik dan benar seluruh donatur
untuk mengambil bagian dalam perjuangan kemanusiaan melawan derita kemiskinan,
pedihnya keterbelakangan, dan sakitnya ketertindasan menjadi kata kunci utama.
Semoga
tulisan sederhana ini menginspirasi banyak pihak untuk berjuang dalam membangun
keshalehan sosial dalam keberagamaan bukan semata-mata demi keshalehan personal
apalagi menjadikan agama sebagai ladang keuntungan duniawi. Berhajji dan
berumrohlah untuk kenajuan, kejayaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan
fuqoro/orang-orang faqir dan masakin/orang-orang miskin.
Labbayk
Allohumma Labbayk…Labbayka La Syarika Laka Labbayk…Innal Hamda wan-Ni’mata Laka
wal Mulk…La Syarika Lak…
Hijjul Fuqoro
wal Masakin….
### Didedikasikan
Untuk Perjuangan Kemanusiaan Melawan Derita Kemiskinan, Pedihnya Keterbelakangan,
dan Sakitnya Ketertindasan. Ditulis Oleh : Rizal Perdana Kusumah Peneliti “TANYA
ACADEMIA : for better knowledge and life” Bandung – Jawa Barat. Email : rizalperdanakusumah@gmail.com – rizalperdanakusumah@yahoo.com ###

No comments:
Post a Comment